21.31

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 4)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4 dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.


(Bagian 4 dari 5 Tulisan)


IV. Pengelolaan Kesuburan Pada Tanah Gambut

Bertani di lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi, penurunan permukaan gambut, rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, dan pH yang sangat masam. Selama ini, untuk mengatasi kendala kesuburan lahan gambut pada umumnya dilakukan pemberian abu bakaran gambut, kapur dan pemberian pupuk kimia. Penggunaan abu bakaran gambut sebagai amelioran sangat tidak dianjurkan karena jika dilakukan terus menerus gambut akan menipis sehingga fungsi gambut sebagai pengatur air/hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati serta sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang mampu meredam perubahan iklim global akan berkurang.

Kesuburan tanah dalam pandangan masyarakat petani lokal melayu di lahan rawa atau lahan gambut adalah kemampuan tanah untuk memberikan hasil yang memadai umumnya dilihat dari aspek fisik dan lingkungannya. Kriteria lahan yang cocok untuk pertanian bagi para petani pioner sebagaimana dituturkan ditentukan oleh jeluk mempan (kedalaman effective) dan bau dari tanah lapisan atas yang diistilahkan dengan bau “harum” (Idak, 1985). Boleh jadi yang dimaksud dengan bau “harum” adalah lawan dari bau “busuk” yang muncul dari asam sulfida (H2S). Asam sulfida ini bersifat meracun tanaman pada kondisi tergenang atau lahan-lahan yang setelah kekeringan (musim kemarau) menjadi basah kembali setelah hujan menyisakan kadar sulfida yang tinggi hasil proses reduksi sulfat.

Berkenaan dengan dinamika tanah ini pada petani umumnya pada awal-awal minggu pertama musim hujan membiarkan tanahnya kosong karena ”air bacam” dapat meracuni tanaman, khususnya padi. Petani baru melakukan tanam setelah 3-4 minggu memasuki musim hujan saat air bacam sudah terencerkan dan tergelontor.

Selain hal di atas, petani juga sering menilai kesuburan lahan dari vegetasi yang tumbuh pada lahan tersebut. Jenis-jenis gulma atau vegetasi tertentu sering dijadikan penciri atau tanaman indikator bagi status kesuburan lahan tersebut. Misalnya tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis) mencirikan keadaan tumpat air (waterlogging) dan kemasaman akut, galam (Meleleuca leucadendron) mencirikan tanah mengalami pengatusan dan berubah matang dengan tingkat kemasaman pH <>(Melastoma malabatharicum) dengan bunga merah jambu menarik, yang disebut juga Rhododendron Singapura menunjukkan tanah paling miskin. Tumbuhan lain seperti Commelina dan Emilia menunjukkan pH rendah (Noor, 1996; Mackinnon et al., 2000). Indikasi tumbuhan yang dilihat di atas berkorelasi dengan tipe luapan lahan rawa sehingga umumnya dipilih yang mendapatkan luapan yaitu tipe A dan B.

Penilaian kesuburan tanah juga terkait dengan keadaan air di sekitar wilayah tersebut antara lain apabila air tersebut tampak bening dan terang ini menunjukkan bahwa kualitas air tersebut sangat masam. Sebaliknya apabila keruh dan berwarna cokelat seperti air teh menunjukkan bahwa kondisi lahan di sekitar wilayah tersebut adalah gambut dalam atau tebal. Menurut Maas (2003) warna air yang keruh tersebut menunjukkan kandungan asam-asam humat dan fulvat yang tinggi.

Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di Indonesia dicirikan oleh antara lain :

1. Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora dan fauna

2. Fungsi hidrologisnya, yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Satu juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat menyimpan 1,2 juta m3 .

3. Sifatnya yang rapuh (fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase (reklamasi) akan mengalami pengamblesan (sub-sidence), percepatan peruraian dan resiko pengerutan tak balik (irreversible) serta rentan terhadap bahaya erosi

4. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu 5000‑10.000 tahun untuk pembentukannya sampai mencapai ketebalan maksimum sekitar 20 m, sehingga taksiran laju pelenggokannya adalah 1cm/ 5 tahun, di bawah vegetasi hutan

5. Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas, yakni lahannya berbentuk kubah keadaannya yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda dengan tanah-tanah mineral.

Pengelolaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan perakaran tanaman. Kedalaman permukaan air tanah pada parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman, jika permukaan air terlalu dalam maka oksidasi berlebih akan mempercepat perombakan gambut, sehingga gambut cepat mengalami subsiden. Sebagai acuan kedalaman permukaan air tanah untuk tanaman pertanian menurut Maas et al dalam Andriesse (1988).

Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang budidaya tanaman melon di lahan gambut dengan teknik budidaya inovatif, yaitu memadukan beberapa teknik budidaya ramah lingkungan seperti pembukaan lahan tanpa bakar, pengolahan tanah minimum (minimum tillage), pemanfaatan gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah/pot bagi tanaman, pemanfaatan limbah pertanian seperti abu serbuk gergaji dan pupuk kandang sebagai amelioran sehingga dapat mengurangi penggunaan kapur, pemberian amelioran hanya pada lubang tanam untuk efisiensi dan penggunaan pupuk organik padat (POP) untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik serta menananam varietas adaptif.

Pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan sangat perlu dipraktekan mengingat lahan gambut merupakan salah satu lahan untuk masa depan apabila diperhatikan cara pengelolaan yang tepat. Menurut Sabiham (2007) melaporkan bahwa beberapa kunci pokok penggunaan gambut berkelanjutan : (1) Legal aspek yang mendukung pengelolaan lahan gambut, (2) Penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi, (3) Pengelolaan air yang memadai sesuai tipe luapan dan hidro topografi, (4) Pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik tanah mineral di bawah lapisan gambut, (5) Peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut. Selain itu dalam pengelolaan lahan gambut haruslah didukung dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dan ketersediaan lembaga pendukung.

Salah satu upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko terjadinya kebakaran di lahan gambut/bergambut adalah memperpendek masa bera. Pengaturan pola tanam dan pola usahatani merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan intensitas pertanaman dan memperpendek masa bera.

Pola usahatani yang diterapkan petani dapat berupa monokultur seperti padi – bera, padi + palawija/sayuran, sayuran+palawija, sayur-­sayuran, sangat tergantung pada tipologi gambut.

Sistem usahatani lahan gambut hendaknya didasarkan kepada sistem usahatani terpadu yang bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergik antar subsistemnya agar pengembangannya tetap menjamin kelestarian sumberdaya alamnya. Secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang cocok dikembangkan di lahan gambut, yaitu sistem usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas andalan (Alihamsyah dan Ananto 1998; Suprihatno et al., 1999; Alihamsyah et al.,2000). Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan petani sedangkan sistem usahatani berbasis komoditas andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif pengembangan sistem dan usaha agribisnis.

Sitem pertanian Leisa menggunakan Tanah selalu tertutupi tanaman dimana dedaunan yang jatuh atau serasah membusuk menutupi permukaan tanah. Pelepasan unsur hara oleh mikroba tanah sejalan dengan kebutuhan tanaman . Sebagian besar hara disimpan dalam bentuk tumbuhan dan ternak. Dari segi perakaran diupayakan menanam tanaman yang menyebar merata di tanah pada berbagai kedalaman. Konsep agroforestry dan penggunaan mulsa merupakan sebagian contoh konsep meniru alam.

Konsep LEISA berupaya memanfaatkan sinergi berbagai komoditi seperti pemilihan tumpang sari yang saling mendukung dalam memanfaatkan ruang, hara, air dan enerji surya. Integrasi ternak – tanaman selalu diusahakan sepanjang hal itu memungkinkan.

Tanaman atau limbah tanaman dijadikan pakan ternak dan limbah ternak dalam bentuk urine, sisa pakan dan kotoran ternak dijadikan bahan untuk pupuk organik sebagai upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah baik secara fisik maupun kimiawi. Budidaya campuran berbagai varietas atau jenis diupayakan selain untuk tujuan tersebut di atas juga untuk mengurangi resiko kegagalan. Budidaya padi dengan ikan secara terintegrasi (Mina padi) merupakan praktek yang mendukung keberlanjutan. Penganekaragaman sumber hara terutama yang berasal dari bahan organik yang tersedia secara lokal menjadi salah satu ciri upaya mempertahankan keberlanjutan


Sistem usahatani berbasis Padi

Sistem usahatani yang berkembang di tingkat petani lahan gambut adalah di lahan pekarangan ditanami dengan tanaman hortikultura seperti rambutan, mangga, ternak ayam buras atau itik dipelihara dengan skala rumah tangga 5-20 ekor per KK atau ternak sapi, atau kambing. Sedangkan lahan usaha ditata dengan sistem surjan. Bagian tabukan (bawah) ditanami padi- bera atau padi-padi, sedangkan di guludan ditanami tanaman hortikultura.

Dengan sistem tata air mikro yang telah dikembangkan di lahan pasang surut dan pembuatan pintu air”flapgate” yang dikembangkan Balittra, peluang untuk meningkatkan intensitas pertanaman sangat besar. Pola ”Sawit Dupa” (sekali mawiwit dua kali panen), yaitu pola padi unggul – padi lokal sudah berkembang. Sebenarnya menurut petani khususnya petani transmigrasi, penanaman padi unggul dapat dilaksanakan. Tetapi karena petani tidak semuanya mengusahakan padi unggul maka muncul beberapa masalah di lapangan. Masalah hama tanaman seperti tikus, walang sangit menjadi penyebab kegagalan panen padi unggul oleh petani. Hama tikus umumnya bersarang di lahan-lahan tidur yang tidak digarap petani.

Selama pola tanam di lahan petani tidak bisa disepakati, maka pola sawit dupa akan sulit terlaksana. Hal ini akan berdampak masa bera yang diperpanjang. Hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh Balittra menunjukkan bahwa pola tanam padi unggul- palawija dapat berhasil baik. Pola tanam digunakan petani di Desa Kantan Atas dan Pinang Habang adalah padi­kedelai, padi-kacang tanah, kedelai-kacang tanah.


Sistem Usahatani berbasis komoditas Hortikultura

Di lahan pekarangan ditanam tanaman keras/hortikultura dan ternak ayam, kambing dan sapi, sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman palawija/sayuran. Penataan lahan pada lahan bergambut cukup beragam antar lokasi, namun sistem usahataninya relatif serupa. Lahan bergambut dengan dengan tipe luapan B/C (Rasau Jaya II) umumnya ditata sebagai surjan, hanya sebagian kecil ditata sebagai sawah/tegalan.

Pembuatan surjan dan pengolahan tanah harus hati-hati sesuai dengan kaedah konservasi gambut dengan mempertahankan lapisan gambut tetap dalam keadaan lembab serta tidak melakukan pembakaran. Pola tanam yang umum dijumpai adalah padi-palawija pada lahan sawah dan palawija­palawija pada surjan dengan periode tanam Agustus/September-Januari/Pebruari-Mei/Juni. Sebagian petani menanam palawija dan sayuran pada periode Juni- Agustus. Lahan bergambut dengan tipe luapan C ditata sebagai lahan tadah hujan, surjan dan tegalan dengan pola tanam Padi-Palawija dan Palawija-Palawija.

Noorginayuwati et al, (2006) melaporkan bahwa sistem usahatani berbasis sayuran dapat diusahakan pada lahan gambut dangkal seperti di Desa Kelampangan kecamatan Sebangau Kalimantan Tengah. Pola tanam yang diusahakan petani Sawi-Sawi, Kangkung, bawang daun, demikian pula di desa Siantan Hulu Kalimantan Barat dilakukan pola tanam palawija/ sayuran, lidah buaya, pepaya dan obat-obatan.

Pengalaman petani sayuran yang mengusahakan lahan gambut tebal di daerah Sungai Slamet (Pontianak) menunjukkan produksi mantap dicapai setelah 15 tahun. Gambut tebal sampai dengan 350 cm ternyata cocok untuk budidaya sayuran, terutama bawang daun, kubis dan bayam. Pemupukan yang diperlukan sangat berat dengan abu kayu dan kotoran ternak sebagai pupuk utama dan dengan abu bakaran gambut serta serasahan.

Bertanam di lahan gambut sama dengan bertanam sistem hidroponik (Notohadiprawiro, 1994). Demikian juga menurut Maas (1999) bahwa pertanian di lahan gambut dengan ketebalan 20 – 50 cm di Pangkoh 10 (Kalimantan Tengah) dengan pengaturan muka air pada tingkat tersier yang berupa penandonan air di musim hujan dan pembukaan tabat di musim kemarau, dapat bertanam 2 kali setahun dengan hasil 2 – 3 ton/ha gabah kering, dan pada demfarm dapat menghasilkan 4,4 ton/ha padi IR 66.

Pemanfaatan lahan gambut oleh sebagian besar telah dilakukan petani untuk pertanaman palawija dan hortikultura. Pengembangan pertanian sayuran yang tergolong berhasil telah dilakukan petani di Siantan Hulu dan Rasau Jaya (Kalimantan Barat), Kalampangan (Kalimantan Tengah), Mamuju Utara (Sulawesi Barat). Sistem usahatani di lahan gambut Mamuju Utara terdiri dari lahan pekarangan tanaman cacao dan jeruk sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman jeruk secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman sayuran atau palawija. Perbaikan tingkat kesuburan dan kemasaman tanah gambut dilakukan petani dengan memberikan bahan amelioran, seperti abu serbuk gergajian, abu sisa tanaman, dan gulma, pupuk kandang, tepung kepala usang dan tepung ikan.

Pengelolaan air

1. Drainase

Drainase merupakan prasyarat untuk usaha pertanian, walaupun hal tersebut bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan mengingat sifat dari gambut yang bisa mengalami penyusutan dan kering tidak balik akibat drainase, sehingga sebelum mereklamasi lahan gambut perlu diketahui sifat spesifik gambut, peranan dan fungsinya bagi lingkungan.

Drainase yang baik untuk pertanian gambut adalah drainase yang tetap mempertahankan batas air kritis gambut akan tetapi tetap tidak mengakibatkan kerugian pada tanaman yang akan berakibat pada hasil. Intensitas drainase bervariasi tergantung kondisi alami tanah dan curah hujan. Curah hujan yang tinggi (4000-5000 mm per tahun)(Ambak dan Melling, 2000) membutuhkan sistem drainase untuk meminimalkan pengaruh banjir.

Setelah drainase dan pembukaan lahan gambut, umumnya terjadi subsidence yang relatif cepat yang akan berakibat menurunya permukaan tanah. Subsidence dan dekomposisi bahan organik dapat menimbulkan masalah apabila bahan mineral di bawah lapis gambut terdiri dari lempeng pirit atau pasir kuarsa. Kerapatan lindak yang rendah berakibat kemampuan menahan (bearing capacity) tanah gambut juga rendah, sehingga pengolahan tanah sulit dilakukan secara mekanis atau dengan ternak. Kemampuan menahan yang rendah juga juga merupakan masalah bagi untuk tanaman pohon-pohonan atau tanaman semusim yang rentan terhadap kerebahan (lodging) (Radjagukguk, 1990).

Bagi tanaman perkebunan, usaha perbaikan drainase dilakukan dengan pembuatan kanal primer, kanal sekunder dan kanal tersier. Hasil penelitian sementara di PT. RSUP menunjukkan bahwa kelapa hybrida PB 121 pada umur 4 tahun (4-5 tahun setelah tanam adalah 1,5 ton kopra/ha). Angka ini sementara 5 kali lebih besar dari hasil yang dicapai di negara asalnya Afrika dimana PB 121 pada umur 4 tahun menghasilkan 0,26 ton kopral/ha (Thampan, 1981 dalam Sudradjat dan Qusairi, 1992).


2. Irigasi

Ketika batas kritis air dapat dikontrol pada level optimum untuk pertumbuhan tanaman, pengelolan air bukan merupakan suatu masalah kecuali pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Jika batas kritis air tidak dapat terkontrol dan lebih rendah dari kebutuhan air semestinya, irigasi perlu dilakukan terutama bagi tanaman tertentu. Hal ini penting untuk memasok kebutuhan air tanaman dan menghindari sifat kering tidak balik. Sayuran berdaun banyak, menunjukkan layu pada keadaan udara panas. Kondisi ini mungkin merupakan pengaruh dari dangkalnya profil tanah yang dapat dicapai oleh akar tanaman dan kehilangan air akibat transpirasi yang lebih cepat daripada tanah mineral (Ambak dan Melling, 2000).

Tanaman mempunyai tahapan pertumbuhan yang sensitif terhadap stress air yang berbeda. Pengetahuan tentang tahapan tersebut akan mempermudah irigasi pada saat yang tepat sehingga mengurangi terjadinya stress air dan penggunaan air yang optimum. Untuk penanaman tanaman semusim, pengaturan irigasi harus mempertimbangkan saat dan kebutuhan tanaman dan disesuaikan dengan ketersediaan air tanah diatas water table, jumlah air hujan, distribusi dan jumlah evapotranspirasi (Lucas,1982)..


3. Penggenangan

Untuk meminimalkan terjadinya subsidence, langkah yang bisa dilakukan adalah tetap mempertahankan kondisi tergenang tersebut dengan mengadopsi tanaman-tanaman sejenis hidrofilik atau tanaman toleran air yang memberikan nilai ekonomi seperti halnya Eleocharis tuberosa, bayam cina (Amaranthus hybridus), kangkung (Ipomoea aquatica) dan seledri air. Di Florida ketika tanaman tertentu tidak bisa dibudidayakan karena perubahan musim, penggenangan dilakukan dan digunakan untuk budidaya tanaman air tersebut (Ambak dan Melling, 2000).


Pengelolaan Tanah

Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi, kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al, 2000). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya.

1. Pembakaran

Pembakaran merupakan cara tradisional yang sering dilakukan petani untuk menurunkan tingkat kemasaman tanah gambut. Terjadinya pembakaran bahan organik menjadi abu berakibat penghancuran tanah serta menurunkan permukaan tanah. Pembakaran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pada tahun pertama dan meningkatkan serapan P tanaman, namun akan menurunkan serapan Ca dan Mg (Mawardi et al, 2001).


2. Bahan pembenah tanah

Pemberian pupuk dan amandemen dalam komposisi dan takaran yang tepat dapat mengatasi masalah keharaan dan kemasaman tanah gambut. Unsur hara yang umumnya perlu ditambahkan dalam bentuk pupuk adalah N, P, K, Ca, Mg serta sejumlah unsur hara mikro terutama Cu, Zn dan Mo. Pemberian Cu diduga lebih efektif melalui daun (foliar spray) karena sifat sematannya yang sangat kuat pada gambut, kurang mobil dalam tanaman dan kelarutan yang menurun ketika terjadi peningkatan pH akibat penggenangan. Sebagai amandemen, abu hasil pembakaran gambut itu sendiri akan berpengaruh menurunkan kemasaman tanah, memasok unsur hara dan mempercepat pembentukan lapis olah yang lebih baik sifat fisikanya (Radjagukguk, 1990).

Di Sumatera Barat ditemukan bahan amelioran baru Harzburgite yang defositnya cukup besar dan kandungan Mg yang tinggi (27,21 – 32,07% MgO) yang merupakan bahan potensial untuk ameliorasi lahan gambut (Mawardi et al, 2001).

Pupuk kandang khususnya kotoran ayam dibandingkan dengan kotoran ternak yang lainnya mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro tertentu dalam jumlah yang banyak. Kejenuhan basanya tinggi, tetapi kapasitas tukar kation rendah. Kotoran ayam, dalam melepaskan haranya berlangsung secara bertahap dan lama. Tampaknya, pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah gambut. Pada jagung manis, pemberian kotoran ayam sampai 14 ton/ha pada tanah gambut pedalaman bereng bengkel dapat meningkatkan jumlah tongkol (Limin, 1992 dalam Darung et al, 2001).

Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut, disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usaha tani yang akan diterapkan. Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani, dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs), akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al, 1996)

Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta, 2000), yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah, tata air mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit, potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut :

Pemilihan jenis tanaman


1. Padi sawah

Budidaya padi sawah selalu diupayakan oleh petani transmigrasi untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Akan tetapi budidaya padi sawah di lahan gambut dihadapkan pada berbagai masalah terutama menyangkut kendala-kendala fisika, kesuburan serta pengelolaan tanah dan air. Khususnya gambut tebal (> 1 m ) belum berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi sawah, karena mengandung sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Kunci keberhasilan budidaya padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian air, penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas, penanganan substansi toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro (Radjagukguk, 1990).

Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut dengan (20-50 cm gambut) dan gambut dangkal (0,5-1 m). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m) dan tidak sesuai pada gambut tebal (2-3 m) dan sangat tebal (lebih dari 3 m). Pada gambut tebal dan sangat tebal, tanaman padi tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro Subagyo et al, 1996).

Pada tanah sawah dengan kandungan bahan organik tinggi, asam-asam organik menghambat pertumbuhan, terutama akar, mengakibatkan rendahnya produktivitas bahkan kegagalan panen. Leiwakabessy dan Wahjudin (1979) dalam Radjagukguk (1990) menunjukkan hubungan erat antara ketebalan gambut dan produksi gabah padi sawah. Pada percobaan pot dengan tanah yang diambil dari lapis 0-20 cm, diperoleh hasil gabah padi (ditanam secara sawah) yang sangat rendah apabila tebal gambut > 80 cm, dan yang paling tinggi apabila ketebalan gambut 50 cm. Ditunjukkan pula bahwa ada kesamaan antara pola perubahan kejenuhan Ca, kejenuhan Mg, pH dan kandungan abu bersama ketebalan gambut dengan perubahan tingkat hasil gabah.

Sehingga kemungkinan tingkat kemasaman dan suplai Ca yang rendah serta kandungan abu yang rendah merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan padi sawah pada gambut tebal. Tidak terbentuknya gabah menurut Andriesse (1988) dan Driessen (1978) berkaitan dengan defisiensi Cu yang akan menyebabkan meningkatnya aktivitas racun fenolik dan menyebabkan male sterility pada tanaman padi.


2. Tanaman perkebunan dan industri

Budidaya tanaman-tanaman perkebunan berskala besar banyak dikembangkan di lahan gambut terutama oleh perusahaan-perusahaan swasta. Pengusahaan tanaman-tanaman ini kebanyakan dikembangkan di propinsi Riau dengan memanfaatkan gambut tebal. Sebelum penanaman, dilakukan pemadatan tanah dengan menggunakan alat-alat berat. Sistem drainase yang tepat sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman perkebunan di lahan tersebut. Pengelolaan kesuburan tanah yang utama adalah pemberian pupuk makro dan mikro (Radjagukguk, 1990). Tanaman perkebunan sesuai ditanam pada ketebalan gambut 1-2 m dan sangat tebal (2-3 m) (Subagyo et al, 1996).

Di Malaysia, diantara tanaman perkebunan yang lain seperti kelapa sawit, sagu, karet, kopi dan kelapa, nanas (Ananas cumosus) merupakan tanaman yang menunjukkan adaptasi yang tinggi pada gambut berdrainase. Nanas bisa beradaptasi dengan baik pada keadaan kemasaman yang tinggi dan tingkat kesuburan yang rendah. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman tahunan yang cukup sesuai pada lahan gambut dengan ketebalan sedang hingga tipis dengan hasil sekitar 13 ton/ha pada tahun ketiga penanaman (Ambak dan Melling, 2000). Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh PT. RSUP di Indragiri Hilir, menunjukkan bahwa tanaman nenas tumbuh dengan baik dan mulai berbuah 14 bulan setelah tanam. Dari hasil sementara menunjukkan bahwa, penanaman nanas dengan kerapatan 20.000 pohon/ha yang ditanam diantara jalur kelapa, tumpangsari kelapa nenas memberikan prospek yang sangat cerah (Sudradjat dan Qusairi, 1992).

Sagu bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan hasil bagus tanpa pemberian input pupuk (Ahmad dan Sim, 1976) pada gambut dengan minimum drainase, walaupun umur tanaman sampai menghasilkan buah sangat lama (15-20 tahun).

Untuk jenis-jenis pohon buah banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan seperti jambu air (Eugenia) Mangga (Mangosteen), rambutan (Ambak dan Melling, 2000) sedangkan di daerah pantai Ivory dengan gambut termasuk oligotropik, pisang dapat tumbuh dengan drainase 80-100 cm dan menghasilkan 25-40 ton/ha walaupun dengan pengelolaan yang agak sulit (Andriesse, 1988) .

Komoditas lain yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan domestik adalah tanaman industri/keras seperti kelapa, kopi, lada dan tanaman obat (Abdurachman dan Suriadikarta, 2000). Tanaman rami dan obat-obatan tumbuh dan berproduksi baik pada gambut sedang dan kurang baik pada gambut sangat dalam (3-5 m) (Subagyo et al, 1996).


3. Tanaman pangan (palawija) dan tanaman semusim lainnya

Tanah gambut yang sesuai untuk tanaman semusim adalah gambut dangkal dan gambut sedang. Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam atau drastis untuk mencegah terjadinya gejala kering tidak balik (Subagyo et al, 1996).

Tanaman pangan memerlukan kondisi drainase yang baik untuk mencegah penyakit busuk pada bagian bawah tanaman dan meminimalkan pemakaian pupuk. Cassava (Manihot esculenta) atau tapioka menghasilkan lebih dari 50 ton/ha dengan pengelolaan yang baik dan merupakan tanaman pangan yang penting pada gambut oligotropik tropis dengan drainase yang baik (Andriesse, 1988).

Di Bengkulu, penanaman jagung dengan penerapan teknologi yang spesifik untuk lahan gambut (teknologi Tampurin) diperoleh hasil 3,29 ton/ha pada varietas Pioneer-12 (Manti et al, 2001).

Sementara untuk tanaman sayuran, Satsiyati (1992) dalam Abdurachman dan Suriadikarta (2000) menyebutkan beberapa tanaman hortikultura yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan di lahan gambut eks PLG yaitu cabai, semangka dan nenas .

Di daerah Kalampangan yang merupakan penghasil sayuran untuk Palangkaraya Kalimantan Tengah, petani setempat mengembangkan sayuran diantaranya sawi, kangkung, mentimun yang diusahakan secara monokultur dalam skala kecil dalam lahan kurang lebih 0,25 hektar (Limin et al, 2000). Di samping itu beberapa lahan gambut yang termasuk lahan bongkor bisa diusahakan untuk berbagai tanaman seperti cabai besar/keriting/kecil, terong, tomat, sawi, seledri, bawang daun, kacang panjang, paria, mentimun, jagung sayur, jagung manis, dan buah-buahan (mangga, rambutan, melinjo, sukun, nangka, pepaya, nanas dan pisang) karena lahan gambut tersebut termasuk tipe luapan C/D (tidak dipengaruhi air pasang surut, hanya melalui rembesan air tanah >50 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau dan <>et al, 2001).

Teknis Bertanam

Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah gambut melalui oksidasi biokimia, permukaan tanah harus dipertahankan agar tidak gundul. Beberapa vegetasi seperti halnya rumput-rumputan atau leguminose dapat dibiarkan untuk tumbuh disekeliling tanaman kecuali pada lubang tanam pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi. Beberapa jenis legume menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara minimum (Singh, 1986) dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kemasaman.

Pembakaran seperti yang dilakukan pada perkebunan nanas harus mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kebakaran lingkungan sekitarnya. Akan lebih baik bila penyiangan terhadap gula dikembalikan lagi ke dalam tanah (dibenamkan) yang akan berfungsi sebagai kompos sehingga selain bisa memberikan tambahan hara juga dapat membantu mempertahankan penurunan permukaan tanah melalui subsidence (Ambak dan Melling, 2000).

Untuk tanaman hortikultura, pembakaran seresah bisa dilakukan pada tempat yang khusus dengan ukuran 3 X 4 m. Dasar tempat pembakaran diberi lapisan tanah mineral/liat setebal 20 cm dan sekelilingnya dibuat saluran selebar 30 cm. Kedalaman saluran disesuaikan dengan kedalaman air tanah dan ketinggian air dipertahankan 20 cm dari permukaan tanah agar gambut tetap cukup basah. Ini dimaksudkan agar pada waktu pembakaran, api tidak menyebar Ardjakusuma et al (2001).


Ekosistem Lahan Gambut

Pada saat mengembangkan hutan rawa gambut harus memerhatikan ekosistem lahan gambut yang sangat unik dan rapuh/rentan. Hal tersebut dapat dicermati secara mudah dari Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada lahan gambut.

Di dalam peta tersebut, ada alokasi hutan tanaman industri (HTI) yang berada pada ekosistem kubah gambut. Seharusnya pada bagian kubah gambut ini dijadikan daerah konservasi sebagai tempat cadangan/resapan air untuk daerah yang berada di sekitarnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh kesalahan alokasi ini adalah kawasan hutan tanaman industri pada kubah gambut tersebut mempunyai produktivitas yang rendah. Demikian pula lingkungan di sekitar kubah gambut menjadi terganggu, yang pada musim hujan kebanjiran dan pada musim kemarau kekeringan.

Pembukaan lahan gambut besar-besaran untuk pengembangan lahan pertanian yang dikombinasikan dengan pengembangan wilayah melalui proyek transmigrasi banyak dilakukan pada gambut tebal (ketebalan gambut >2,0 m). Pembukaan lahan gambut ini dimulai dengan pembuatan saluran berukuran sangat besar, tanpa memperhatikan sifat gambut yang mudah rusak.

Akibatnya, terjadi berbagai fenomena perubahan sifat gambut yang sangat drastis. Di beberapa tempat, terutama di daerah dengan gambut lebih tipis (ketebalan <>

Perubahan sifat yang drastis ini mengakibatkan lahan gambut tidak dapat dipakai sebagai lahan budi daya sehingga banyak yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya. Dampak lebih jauh dari pembukaan lahan gambut yang dilakukan secara besar-besaran dengan membuat saluran drainase berukuran besar adalah bahwa saluran-saluran tersebut menjadi jalan untuk masuknya kegiatan pembalakan ke dalam hutan. Akibatnya, penebangan hutan menjadi sangat intensif, yang disusul fenomena kebakaran hutan dan lahan gambut yang asapnya telah menyebabkan persoalan lingkungan yang serius hingga memancing protes negara-negara tetangga.

Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut, disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usahatani yang akan diterapkan. Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani, dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs), akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al, 1996)

Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta, 2000), yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah, tata air mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit, potensi pengembangan lahan gambut dapat dilakukan dengan baik.


Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

0 comments: